Contributor
March 30, 2018
Kalimantan-Surga Para Polyglot
img_7535_1-01-01.jpeg

Kalimantan selalu menjadi pulau yang penuh misteri bagiku. Sebelum benar-benar menginjakkan kaki disini, aku membayangkan bahwa Kalimantan itu identik dengan suku pedalaman yang masih menerapkan pola hidup tradisional. Namun semenjak tahun 2015, segala stereotype itu berubah. Setelah berinteraksi dengan warga dan mengeksplorasi secuil wilayah Kalimantan, pulau ini sangatlah indah, terutama keberagaman bahasa dan budayanya.

Aku mendapat kesempatan menjadi pengajar Bahasa Inggris dengan penempatan di Kalimantan Barat, tepatnya di Kabupaten Landak. Mayoritas masyarakat disini beretnis Dayak, Melayu dan Tionghoa. Terdapat pula suku pendatang seperti suku Jawa, Sunda, Batak dll. Khusus mayoritas suku Dayak berasal dari suku Dayak Kanayatn. Yang menarik dari masyarakat Suku Dayak disini adalah bahwa mereka memiliki banyak sekali bahasa daerah. Jadi, saat berkunjung di kampung-kampung, aku menemukan fenomena unik dimana icebreaker utama mereka adalah pembicaraan mengenai bahasa.

Jika percakapan di beberapa negara dimulai dengan berbicara mengenai hobi, cuaca dan lain-lain, disini, percakapan akan sangat terasa hidup saat kita menanyakan bahasa satu sama lain. Dari situlah percakapan topik lain mulai berkembang. Pada umumnya, masing-masing individu akan mencoba melihat kesamaan dan perbedaan kosakata di masing-masing bahasa. Hal ini sangat lumrah terjadi karena masing-masing komunitas memiliki bahasa yang berbeda. Perlu diingat, perbedaan bahasa ini tidak hanya sekedar perbedaan aksen atau dialek seperti yang terjadi pada Bahasa Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur), tapi benar-benar hal mendasar seperti perbedaan kosakata, pengucapan, struktur kalimat dll.

Ba’ahe merupakan bahasa utama yang dipakai di Kota Ngabang, Kabupaten Landak dan sekitarnya. Selain Ba’ahe, bahasa lain yang digunakan di kabupaten ini adalah bahasa Balangin, Banyadu’, Banana’, Bamak dan beberapa bahasa lainnya. Di daerah yang lebih dalam, terdapat banyak bahasa lain yang sayangnya hanya dituturkan oleh segelintir kecil masyarakat sehingga sangat rawan terhadap kepunahan seperti Bahasa Bako’eh, Badeneh, Bamayo, Bae’i dan lain-lain. Yang menarik, semua nama bahasa tersebut mengandung makna ‘tidak’. Awalan (ba-) identik dengan awalan (ber-) dalam bahasa Indonesia yang berarti ‘mempunyai’ dan kata berikutnya memiliki makna tidak, seperti angin, nyadu’, nana’ dll. selain itu, terdapat pula bahasa yang dinamakan berdasarkan kata yang sering diucapkan seperti kata ahe yang berarti apa.

Secara historis dan geografis, perbedaan ini terjadi karena kebiasaan suku-suku jaman dahulu yang sangat menutup diri dan tidak berinteraksi satu sama lain. Mereka melakukan hal tersebut karena adanya tradisi Ngayau (berburu anggota suku lain) sehingga masing-masing komunitas terisolir dan kemudian mengembangkan sistem budaya serta bahasa mereka sendiri. Bahkan sekarang, masih terdapat desa yang memiliki perbedaan bahasa meskipun mereka hanya dipisahkan oleh seberang sungai.

Masyarakat disini dapat dikatakan sebagai polygot by default dan Kalimantan Barat sendiri merupakan surganya para polyglot. Disini, mereka biasanya menguasai lebih dari dua bahasa (selain bahasa Indonesia tentunya). Aku sendiri sedang mempelajari Bahasa Ba’ahe karena aku bekerja di lingkungan yang mayoritasnya berbahasa Ba’ahe. Selain itu, aku juga belajar bahasa Belangin karena orang tua angkatku berbicara bahasa ini. Tidak jarang pula aku menemukan individu yang menguasai lima bahasa sekaligus. Impressive! Saat ditanya, mereka mengatakan bahwa kuncinya adalah sering praktek dan berinteraksi dengan penutur bahasa tersebut.

Once again, language unites people!

Belajar bahasa daerah di Kalimantan Barat menurutku sangat membuka wawasan. Hal ini karena aku dihadapkan pada fakta bahwa banyak sekali bahasa daerah yang perlu diselamatkan. Bahasa daerah disini bersifat oral, mereka tidak memiliki script atau penulisan yang baku. Mereka juga tidak memiliki alfabet khusus untuk menuliskan bahasa mereka. Sehingga, bahasa-bahasa tersebut tidak dapat terdokumentasi dengan baik. Selain itu, banyak individu yang memutuskan untuk merantau sehingga penutur asli bahasa-bahasa tersebut menjadi berkurang. Disini terdapat bahasa yang bahkan hanya dituturkan kurang dari 1000 orang.

Oleh karena itu, upaya konservasi bahasa diperlukan untuk mencegah kepunahan bahasa tersebut. Diantaranya adalah dengan mulai membuat pengarsipan bahasa daerah. Selain itu, diperlukan upaya penyadaran bagi generasi penerus akan pentingnya menjaga agar bahasa-bahasa tersebut tetap dituturkan dengan baik. Nah, tentang bagaimana langkah-langkah konservasi bahasa yang tepat dan sejauh mana komunitas Polyglot Indonesia ikut andil dalam program-program tersebut akan kita bahas di postingan berikutnya.

 

oleh

Kunto Nurcahyoko

About the author

Kunto Nurcahyoko is a contributor in Polyglot Indonesia. Born and raised in Java, he is fluent in both Javanese and Indonesian. He is a language enthusiast who is currently working in West Kalimantan as an English teacher. His passionate interest on language learning and education has led him to work professionally in frontier, outermost and least developed region of Indonesia for couple years. He also enjoys going around on adventure, meeting new people and places and high-fiving possibilities through language.

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

When the moon hits your eye like a big...
Good Day, Language Enthusiasts!...
Keberagaman Suku Indonesia  (via: pelajaran.co.id)
Language is a vital element of human...
lobalisasi menjadi sebuah fenomena yang...
Polyglot Indonesia is present at the...

Good Day, Language Enthusiasts!...

On May 5th 2018 at Pusdiklat SGA,...

The more, the merrier, isn’t it?...

Keberagaman Suku Indonesia  (via: pelajaran.co.id)
Language is a vital element of human...
lobalisasi menjadi sebuah fenomena yang...
Polyglot Indonesia is present at the...