German Language Coordinator, Language Coordinator

by denny.kusuma on 

May 15, 2017
Menjadi seorang Interpreter, itukah panggilan jiwamu?
interpreter 2

(Repost from http://www.wordholic.com/2017/04/interpreter-journey.html?m=1)

Banyak yang bilang kalau menjadi seorang ahli bahasa asing itu keren. Jika bisa berbicara dalam bahasa Inggris saja sudah dianggap wah apalagi jika mampu menguasai bahasa asing lainnya yang dianggap tidak mudah dikuasai. Hal itu jugalah yang membuat saya tertarik dengan bahasa asing sejak masih kanak-kanak. Membaca buku dan kamus milik Ayah yang tidak bisa saya mengerti, lalu melihat film bule yang aneh cara berbicaranya, membuat telinga saya sangat ingin tahu apa artinya. Bahasa Inggris menjadi bahasa asing pertama yang ingin saya pelajari.

Seiring bertambahnya usia, saya mulai suka dengan bahasa Jepang. Alasannya hanya karena saya ingin bisa membaca huruf-huruf aneh yang sering muncul di layar film kartun Jepang alias anime kesukaan. Menjadi keren bukanlah tujuan utama, tetapi karena murni rasa ingin tahu pada bahasa-bahasa asing tersebut. Itulah sebabnya saya mempelajari dua bahasa asing sampai lulus kuliah hingga bisa berbicara dan paham penutur aslinya menuturkan kalimat. Pekerjaan menjadi interpreter serta translator menjadi sangat mengasyikkan.

Pada kesempatan workshop tentang Intepreter yang diselenggarakan oleh Polyglot Surabaya pada 8 April lalu, saya menceritakan pengalaman tentang dunia interpreter. Interpreter dan translator itu sama secara tugas pokoknya tetapi berbeda media pekerjaannya. Intepreter adalah seseorang yang menerjemahkan bahasa pertama ke bahasa kedua secara lisan atau verbal, sedangkan translator adalah penerjemah tulisan yang bisa kita lihat sebagai penerjemah buku, naskah atau script film.

Apa saja sih asyiknya pekerjaan sebagai interpreter itu?

1. Kita bisa mendapat kawan dari berbagai negara di dunia. Otomatis wawasan kita juga semakin bertambah, networking pun ikut meluas.
Mendapat kesempatan ke berbagai event untuk menjadi interpereter sekaligus merasakan atmosfer acaranya. Seperti saat saya menjadi interpreter di sebuah event balap motor, maka otomatis saya menjadi tahu perjuangan para mekanik dan pembalapnya serta suasana sirkuit.

2.  Melatih pikiran agar lebih toleran dan terbuka. Perbedaan budaya antar negara terkadang membuat orang asing bisa kurang nyaman saat berada di Indonesia, atau sebaliknya bisa terjadi kesalahpahaman antara orang lokal dengan orang asing. Kita akan belajar menjadi mediator yang baik antara kedua belah pihak dan berusaha agar perbedaan tidak memicu perselisihan.

3. Interpreter bisa masuk ke segala bidang pekerjaan. Dari bidang hukum, fashion, industri dan lain-lain yang memang memiliki banyak tenaga kerja asing, pasti membutuhkan sosok interpreter serta translator. Otomatis nilai jual kita lebih tinggi di dunia kerja. jikalau job desc utama bukan inteprereter pun, kemampuan bahasa asing akan tetap menjadi pembeda dengan karyawan lain yang kurang paham bahasa asing.

4. Bekerja sebagai interpreter akan melatih sifat tangguh dan tidak mudah putus asa. Mental yang baik harus dimiliki seorang interpreter. Saya yang awalnya kurang percaya diri untuk berbicara di depan umum, kini sudah tidak terlalu grogi lagi karena sering menerjemahkan di depan banyak orang baik di dalam meeting atau lapangan.

Selama beberapa tahun menjadi interpreter bahasa Jepang sejak lulus kuliah di tahun 2013, banyak sekali kesulitan yang saya alami. Mulai dari tidak selalu tepat dalam menerjemahkan, harus bekerjasama dengan orang yang berkarakter sulit, harus menjelaskan banyak hal tentang Indonesia sampai soal politik dan budaya tradisional yang tidak sepenuhnya saya kuasai materinya, serta hal-hal tidak terduga lainnya. 
Untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang saya rasakan saat menjadi interpeter, saya melakukan hal-hal di bawah ini.

1. Mempersiapkan materi sesuai dengan bidang pekerjaan yang akan dilakukan.  Misalnya ditugaskan menjadi interpreter di dunia fashion, tentu kosakata di dunia tersebut harus banyak saya catat dan pahami.
Selalu membawa notes atau gadget untuk mencatat ketika narasumber sedang butuh diterjemahkan. Sebelum menerjemahkan bahasa kedua, saya akan memastikan kepada narasumber apakah penjelasan saya sudah tepat.

2. Jangan bersikap sok tahu.
Terus belajar dan mengingat kembali kosakata, tata bahasa serta cara penyampaiannya. Menjaga kesehatan secara fisik dan rohani karena tak jarang pekerjaan sebagai interpreter butuh waktu berjam-jam di lapangan, misalnya untuk training karyawan lokal.

3. Berani, mau belajar dan tetap bersikap tidak memihak. Pilih kalimat yang tidak memicu pertengkaran. Misal salah satu atau kedua pihak sedang berbeda pendapat, cobalah meluruskan supaya tidak terjadi kesalahpahaman. Barangkali karena tidak tahu bahasa masing-masing, makanya bisa hampir terjadi gagalnya hubungan kerjasama.

4. Terus mengasah kemampuan bahasa asing dan mencoba untuk mengikuti ujian kemampuan bahasa asing sebagai bahan evaluasi diri.
Interpreter adalah the center of attention. Berusaha latih public speaking supaya mampu menerjemahkan dengan baik dan juga mudah dipahami.
Selalu berdoa sebelum bertugas sebagai interperter.

Suasana seminar The Intepreter cukup semarak. Antusiasme generasi muda sebagai interpreter juga sangat terasa. Bagi yang masih kurang percaya diri dengan kemampuan berbahasa asingnya namun bercita-cita ingin menjadi seorang interpreter, tetap semangat belajar ya. Practice makes perfect!

interpreter 2

The Interpreter by Polyglot Indonesia - Surabaya

interpreter

The Interpreter by Polyglot Indonesia - Surabaya

 

About the author

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...
Speak Up

Polyglot Indonesia has this great...

Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organization

Newsletter