Contributor

by rizki.maulana on 

January 25, 2017
Esperanto: Si “Anak-Bawang” yang Ingin Mendamaikan Dunia
Esperanto Indonesia

Sebagai suatu bahasa, Esperanto bisa disebut sebagai anak-bawang karena kemunculannya sendiri baru dimulai ketika sang inisiator Dr. L.L. Zamenhof mengeluarkan buku mengenai bahasa Esperanto, Unua Libro, pada 26 Juli 1887. Ya, bahasa Esperanto bukanlah bahasa alami, melainkan salah satu bahasa buatan yang masih eksis hingga saat ini dengan jutaan penutur di seluruh dunia. Paling tidak sekali tiap tahunnya, para esperantis ini (penutur bahasa Esperanto) bertemu di dalam kongres esperanto global, regional, nasional, atau lokal. Mereka berbicara dan berdiskusi bersama mengenai isu-isu yang menjadi tema utama di dalam kongres. Selanjutnya, dalam artikel ini, kita akan mencoba mengenal lebih dalam mengenai bahasa Esperanto.

Secara singkat, sejarah bahasa Esperanto dimulai ketika Zamenhof merasa gelisah ketika daerah tempat tinggalnya, Białystok, Polandia seringkali ditemukan konflik horisontal akibat perbedaan suku dan bahasa yang ada. Zamenhof pun berpikiran untuk menciptakan bahasa baru yang mudah dimengerti oleh setiap suku di Białystok dan dapat menjembatani kesenjangan bahasa yang ada. Kemudian, Zamenhof meracik bahasa barunya dengan mengombinasikan bahasa-bahasa yang terdapat di tempat tinggalnya, hingga pada tahun 1887, ia memperkenalkan bahasa Esperanto. Di sini, netralitas menjadi penekanan di dalam bahasa Esperanto karena bahasa ini bukanlah bahasa milik suatu negara atau bangsa mana pun, melainkan milik semua orang dalam payung ras kemanusiaan. Melalui bahasa ini, Zamenhof berharap dapat menciptakan dunia yang penuh damai dan cinta dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

Untuk mencapai hal-hal tersebut, kemudahan dan kesederhanaan juga menjadi kunci utama dalam bahasa Esperanto. Menurut beberapa penutur, bahasa ini sudah dapat dikuasai hanya dalam waktu tujuh hari. Hal ini disebabkan oleh keteraturan dan fleksibilitas yang dimiliki Esperanto. Sebagai contoh, adanya akhiran-akhiran yang berbeda untuk menandakan kategori kata, seperti -a untuk kata sifat, -o untuk kata benda, -e untuk kata keterangan, dan seterusnya. Selain itu, struktur kalimat dalam bahasa Esperanto pun tidak memiliki bentuk pasti. Bahasa ini dapat mengakomodasi bentuk S-P-O (Mi amas vin – Aku cinta kamu), S-O-P (Mi vin amas), atau pun P-S-O (Amas mi vin). Hal tersebut dikarenakan adanya fitur akusatif (akhiran -n pada objek) yang dimiliki Esperanto. Kosakata dalam bahasa Esperanto pun sebagian besar diambil dari bahasa-bahasa umum lain, seperti pada kata bildo (Bild) dan hundo (Hund) dalam bahasa Jerman, birdo (bird) dan parto (part) dalam bahasa Inggris, serta lundo (lundi) dan mardo (mardi) dalam bahasa Perancis.

Bahasa Esperanto adalah bahasa yang hidup, bahasa yang eksis di tengah bahasa-bahasa alami lainnya. Meskipun dibuat oleh manusia, Esperanto tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu sebagai alat untuk menjembatani komunikasi antarbangsa dan antarnegara tanpa menghilangkan netralitas yang dimiliki. Bahasa Esperanto diciptakan bukan untuk menghilangkan bahasa-bahasa lain, melainkan tumbuh bersama dan ikut melestarikan bahasa-bahasa yang hampir punah. Mudah, sederhana, fleksibel, berciri internasional, dan netral adalah hal-hal yang akan selalu melekat pada bahasa Esperanto, sehingga tidak ada alasan untuk tidak mempelajarinya. Sebagai penutup, seorang profesor bahasa Inggris yang juga penutur bahasa Esperanto, Prof. Humphrey Tonkin, pernah mengatakan Esperanto adalah upaya untuk menghadapi jiwa ketidakadilan, intoleransi, dan kebencian yang mengotori indahnya dunia ini

About the author

Rizki Maulana is a social welfare studies student in Universitas Indonesia. Since high school, he has showed some interest and curiosity in languages. Currently, he leads Jakarta Esperanto-Club, Esperiga Suno. By Esperanto, he got many interesting experiences, like being tour-guide for tens of foreign-esperantists and attending esperanto congresses.

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...

 

            Seperti yang...

Pada era kini, mempelajari bahasa...

Globalisasi menjadi sebuah fenomena...

Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organization

Newsletter