Guest Contributor

by teddy.nee on 

November 21, 2016
Hokkien Medan: Varian Bahasa Asing Yang Melokal
243049183_41d67da71e_o.jpg

Mungkin bagi kalian yang tinggal di daerah yang terkenal akan tempat pariwisatanya, kalian pasti sering berpapasan dengan turis asing. Kita tahu bahwa banyak turis asing dari Barat yang senang berwisata ke Indonesia, misalnya ke Bali, namun ada juga turis asing dari Timur, misalnya Tiongkok, yang jumlahnya tidak sedikit. Pada umumnya bahasa yang akan digunakan dengan para turis Tiongkok tersebut adalah bahasa Tionghoa, atau yang lebih dikenal dengan Mandarin.

Namun, apakah kalian tahu bahwa sebenarnya banyak dari mereka yang berbahasa Mandarin sebagai bahasa kedua? Dengan kata lain, mereka juga mempunyai bahasa mereka sendiri, misalnya bahasa Hokkien, Hakka, Kanton, dll. Dan bahasa-bahasa tersebut sebenarnya juga terdapat di Indonesia. Mengapa demikian?

 

Migrasi Orang Tionghoa ke Indonesia

Sejarah mencatat bahwa orang-orang dari daerah yang telah menjadi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sekarang bermigrasi ke Indonesia sejak lama sebelum para penjajah datang ke tanah dari tempat yang telah memerdekakan diri menjadi Republik Indonesia sekarang. 

Motivasi orang-orang Tionghoa tersebut pun beragam, ada yang dikarenakan adanya masalah ekonomi, bencana alam, masalah keluarga atau adanya kerabat di Indonesia pada masa itu. Setelah dimulainya penjajahan di Indonesia, motivasi para penjajah mendatang kuli kontrak dari Tiongkok juga menjadi salah satu alasan migrasi orang Tionghoa ke Indonesia.

Menurut sebuah riset, bahasa yang digunakan orang Tionghoa pada masa itu pada umumnya adalah bahasa Hokkien, sehingga bahasa Hokkien pun menjadi lingua franca para pendatang Tionghoa di Indonesia. Selain penutur bahasa Hokkien, terdapat juga beberapa bahasa Tionghoa yang umum digunakan di Asia Tenggara, misalnya Teochew, Hakka dan Kanton. Ada yang mengatakan bahwa bahasa Teochew dan Hokkien adalah dua bahasa yang serupa, namun menurut pengalamanku, saya merasa cukup sulit untuk mengerti bahasa Teochew, mungkin karena bahasa Hokkien yang saya tuturkan adalah bahasa Hokkien Medan?

 

Hokkien Medan, Bahasa Apakah Itu?

Bagi yang pernah ke Medan, kalian pasti menemukan adanya keberagaman etnis, budaya dan bahasa, tidak lupa juga untuk menyebut keberagaman kuliner Medan yang tidak ada duanya, mulai dari masakan Batak, Jawa, Minang, Tionghoa, India, dll.

Selain bahasa resmi negara yaitu bahasa Indonesia, mayoritas orang Tionghoa di Medan juga menggunakan bahasa Hokkien Medan, tidak terbatas pada latar belakang mereka apakah dari suku Kanton, Hakka, atau yang lainnya. Dan etnis-etnis lainnya juga ada yang masih bisa menuturkan bahasa etnis mereka masing-masing, misalnya etnis Jawa dengan bahasa Jawa, etnis Batak dengan bahasa Batak, etnis Tamil (India) dengan bahasa Tamil, dll, maupun menuturkan bahasa dari etnis yang berbeda.

Perlu diketahui bahwa bahasa Hokkien adalah bahasa yang memiliki sejarah panjang, bahkan berusia lebih tua dari bahasa Mandarin sehingga dari waktu ke waktu, bahasa ini juga telah mengalami banyak perubahan atau variasi. Oleh karena itu, bahasa Hokkien di Medan lebih tepatnya disebut sebagai bahasa Hokkien Medan, untuk membedakannya dengan bahasa Hokkien yang lain.

 

Varian Bahasa Hokkien

Bahasa Hokkien Medan lebih mirip dengan bahasa Hokkien Penang daripada bahasa Hokkien Taiwan. Perbedaan yang mencolok adalah adanya pengaruh bahasa Indonesia dalam bahasa Hokkien Medan, pengaruh bahasa Inggris dalam bahasa Hokkien Penang, dan pengaruh bahasa Mandarin dalam bahasa Hokkien Taiwan.

Di Taiwan, bahasa Hokkien Taiwan ditulis dengan menggunakan aksara Mandarin, sedangkan dulunya ditulis dengan huruf Latin yang diperkenalkan oleh para misionaris Eropa ketika menjajah Taiwan. Sistem penulisan ini disebut POJ (Peh-Oe-Ji). Sedangkan di Medan, penutur bahasa Hokkien tidak dapat menuliskannya karena tidak terdapat sistem penulisan Hokkien Medan, sehingga ketika ada keperluan untuk berkomunikasi dalam bentuk tulisan, maka bahasa Indonesialah yang digunakan.

Sebenarnya selain varian yang disebutkan sebelumnya, terdapat juga varian bahasa Hokkien di Filipina, Singapura, dll yang telah berkembang seiring dengan perubahan zaman di tempatnya berada. Sehingga penutur bahasa Hokkien dari varian-varian yang berbeda mungkin tidak dapat mengerti satu sama lain dengan mudah dikarenakan adanya pengaruh bahasa-bahasa sekitar.

 

Jumlah Penutur Bahasa Hokkien Medan

Populasi orang Tionghoa di Indonesia tidaklah banyak, sehingga penutur bahasa Hokkien Medan juga tidaklah banyak. Sebuah sumber di internet mencatat bahwa terdapat sekitar 800.000 - 1.000.000 jumlah penutur bahasa Hokkien Medan. Untuk memudahkan pemahaman kalian, jumlah ini masih sangat rendah dibandingkan dengan jumlah penutur bahasa Jawa, Sunda, Batak, atau Bali. 

Perlu diketahui juga bahwa tidak semua penutur bahasa Hokkien Medan terdapat di Medan karena banyak juga yang telah berpindah tempat, misalnya ke pulau Jawa, namun, mayoritas penuturnya masih terdapat di Medan.

 

Photo Credit: avlxyz Flickr via Compfight cc

About the author

Programer | Blogger Bahasa | Kolektor | Penutur Multibahasa | Penerjemah | Penulis

Kunjungi blog saya di www.neeslanguageblog.com

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...

Apakah kamu sadar bahwa bahasa...

Speak Up

Polyglot Indonesia has this great...

Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organization

Newsletter