Guest Contributor

by teddy.nee on 

Juli 8, 2017
Maaf, Saya Tidak Bisa Bahasa Tionghoa
erol-ahmed-80091_small.jpg

Apakah kamu sadar bahwa bahasa Inggris sepertinya menjadi salah satu bahasa yang digunakan dalam komunikasi internasional? Ketika kamu pergi ke bandara atau tempat-tempat berlibur di negara non bahasa Inggris, kamu akan selalu melihat bahasa Inggris di papan pengumuman. Ketika kamu bertemu siapapun yang tidak memiliki bahasa yang sama denganmu, kamu mungkin akan berbicara dalam bahasa Inggris juga. Atau ketika seseorang berbicara padamu di jalanan di negara asing, orang itu mungkin akan menggunakan bahasa Inggris denganmu.

Saya mau kamu berpikir dengan sudut pandang yang berbeda. Jika kamu bertemu saya di Taiwan dan kamu bisa berbicara bahasa Tionghoa (Mandarin) cukup bagus untuk keseharian, apakah kamu akan berbicara dengan saya dalam bahasa Tionghoa dengan asumsi bahwa saya tidak tahu bahasa kamu atau asumsi bahwa bahasa Tionghoa mungkin adalah bahasa saya dikarenakan saya berwajah oriental, atau kamu akan berbicara dengan saya dalam bahasa Inggris? Petunjuknya adalah saya juga orang asing seperti kamu di Taiwan dan kita tidak mengenal satu sama lain.

Tentu kamu bisa berkata bahwa hal itu tergantung pada waktu dan apakah ada orang lain di sekitar pada saat pertemuan kita. Namun apapun jawabannya, yang menjadi masalah adalah asumsi yang dibuat oleh orang tersebut. Saya menemukan bahwa orang-orang berasumsi bahwa bahasa Tionghoa adalah bahasa saya, bisa jadi bahasa asli atau utama, ketika mereka tahu bahwa saya adalah keturunan Tionghoa.

Bagaimana rasanya menjadi seorang keturunan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Tionghoa?

Orang-orang pada umumnya mengira bahwa bahasa asli saya adalah bahasa Tionghoa, dalam hal ini Mandarin, karena saya adalah seorang keturunan Tionghoa. Tapi apa rasanya menjadi seorang keturunan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Tionghoa? Pertama-tama, kita semua perlu tahu bahwa migrasi orang Tionghoa sudah terjadi sejak berabad-abad dulu dan telah ada banyak generasi baru orang Tionghoa yang lahir di berbagai negara di seluruh dunia. Saya secara pribadi telah bertemu orang keturunan Tionghoa dari Eropa, Amerika dan bahkan Afrika. Kami berbagi asal usul yang sama tapi bagaimanapun juga, kami telah tumbuh menjadi berbeda atau dengan kata lain, unik.

Kampung halaman saya adalah kota Medan di Indonesia dan mayoritas orang seperti saya di sana masih bisa berbahasa Hokkien, yang di mana merupakan sebuah dialek Tionghoa yang berasal dari provinsi Fujian. Ia juga disebut bahasa Fujian atau disebut bahasa Taiwan di Taiwan. Namun, bahasa Hokkien yang kami gunakan di Medan disebut bahasa Hokkien Medan karena ia telah berkembang menjadi varian Hokkien yang berbeda, cukup berbeda dari aslinya. Hokkien Medan seperti bahasa kriol dengan banyak kata pinjaman dari bahasa Indonesia dan Inggris serta dialek Tionghoa lainnya seperti dialek Hakka dan Kanton.

Dari cerita pendek ini, kamu dapat mengetahui bahwa saya tidak berbahasa Tionghoa sebagai bahasa asli. Kenyataannya, bahasa Tionghoa adalah bahasa asing kedua yang saya pelajari di sekolah. Dan dengan bisanya saya bahasa Indonesia juga telah membuat pembelajaran bahasa Eropa menjadi lebih mudah karena terdapat banyak kata pinjaman dari bahasa Belanda, Portugis dan Arab dalam bahasa Indonesia.

Beberapa orang tua mengira bahwa bahasa Tionghoa dilarang pada zaman dahulu dan telah diperbolehkan penggunaannya dan pembelajarannya secara publik pada zaman sekarang, lantas mengapa generasi keturunan Tionghoa tidak mempelajarinya? Alasan lain untuk mempelajarinya adalah kekuatan ekonomi Tiongkok yang telah menarik minat orang-orang dari seluruh dunia untuk mempelajari bahasa Tionghoa. Bagaimanapun juga, bahasa Tionghoa hanyalah sebuah bahasa asing bagi saya, saya tidak merasakan adanya hubungan dengan Tiongkok dan sama halnya juga dirasakan orang tua saya. Tidak ada hubungan yang bisa saya rasakan dengan bahasa ini dikarenakan saya yakin nenek moyang saya juga tidak berbahasa Tionghoa sebagai bahasa asli.

Hal ini bisa disamakan dengan orang Jawa di Suriname yang di mana nenek moyang mereka didatangkan dari Hindia Belanda (sekarang bernama Indonesia) pada zaman dahulu. Bahasa mereka tentunya adalah bahasa Jawa, bukanlah bahasa Indonesia karena sebenarnya mereka bukan orang Indonesia dikarenakan belum terbentuk negara Indonesia di saat mereka dipindahkan ke Suriname.

Sebenarnya penyebutan "Tionghoa" adalah suatu bentuk generalisasi karena orang Tionghoa adalah kelompok yang majemuk, terdapat banyak suku di dalamnya yang memiliki bahasanya masing-masing. Misalnya, suku Hokkien dan bahasa Hokkien, suku Hakka dan bahasa Hakka, suku Kanton dan bahasa Kanton, dll. Bahasa-bahasa ini juga sangatlah berbeda sehingga pengertian satu sama lain tidak akan terjadi tanpa pembelajaran bahasa tersebut. Untuk memberikan suatu perspektif yang berbeda, mungkin saya bisa memberikan suatu contoh dengan mengenalkan pencipta bahasa Esperanto yaitu Dr. L. L. Zamenhof. Pada saat bahasa Esperanto diperkenalkan ke publik, lokasi tempat dia tinggal yang bernama Białystok termasuk ke dalam Kekaisaran Rusia, namun tempat ini sekarang termasuk ke dalam negara Polandia. Dan Dr. L. L. Zamenhof adalah seorang Yahudi. Lantas, apakah kita akan menyebut dia sebagai orang Rusia, Polandia atau Yahudi pada saat ini?

Dalam bahasa Hokkien, kami menyebut diri kami sebagai orang (Dinasti) Tang, bukan orang Tionghoa. Saya pernah mencari-cari alasan di belakang penyebutan ini dan saya menemukan penjelasan bahwa nenek moyang orang Tionghoa di Indonesia telah datang sejak zaman Dinasti Tang. Bahasa Hokkien juga merupakan bahasa yang berusia jauh lebih tua daripada bahasa Tionghoa (Mandarin).

Melawan stereotipe dan mengambil keuntungan

Bisanya saya bahasa Tionghoa di Taiwan tentunya sangat membantu saya dalam berasimilasi dengan masyarakat lokal dan juga membantu untuk mengerti tentang kebiasaan dan budayanya. Berteman juga telah menjadi lebih mudah daripada sebelumnya. Namun, ada beberapa stereotipe yang masih kadang-kadang membuat saya merasa kurang nyaman. Saya menemukan bahwa saya tidak ditolerir sebanyak orang asing yang berwajah asing ketika saya melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Tionghoa. Beberapa orang berpikir bahwa sangatlah memalukan untuk seorang keturunan Tionghoa yang tidak bisa berbahasa Tionghoa dengan baik. Tentunya hal ini tidak selalu terjadi dikarenakan saya juga sedang belajar keras untuk mengenal bahasa Tionghoa dengan sebaik mungkin. Dan saya beruntung dikelilingi oleh orang-orang yang baik.

Di lain pihak, salah satu dari banyak keuntungan dari bisa bahasa Tionghoa dan memiliki wajah oriental adalah saya lebih diinginkan untuk mengajar bahasa Tionghoa. Minimal, inilah yang saya rasakan sebagai keuntungan kompetitif saya. Hal yang sama juga sebenarnya terjadi pada penerimaan guru bahasa Inggris oleh sekolah-sekolah di Taiwan, di mana orang asing berwajah asing lebih diinginkan daripada yang berwajah oriental.

Jujur saja, bahasa Tionghoa bukanlah bahasa yang mudah untuk dipelajari. Saya kira ini bukan stereotipe tapi suatu kenyataan. Tata bahasanya sangat mudah dibandingkan dengan bahasa-bahasa Jermanik, Slavik atau Roman, namun pembacaan dan penulisan memerlukan latihan yang berbeda selain pembicaraan dan pendengaran. Ia bukanlah bahasa yang dilafalkan sesuai dengan penulisannya. Penutur asli saja masih bisa lupa atau tidak mengenal beberapa karakter bahasa Tionghoa.

Inilah alasannya mengapa saya merasa kurang nyaman ketika seseorang berasumsi bahwa saya bisa berbahasa Tionghoa sebagai bahasa asli, seakan-akan saya tidak menghabiskan waktu dan usaha untuk mempelajarinya. Tidak dihargai rasanya sangat mengganggu. Jika kamu sedang mempelajari atau sudah pernah mempelajari bahasa Tionghoa, kamu akan tahu yang saya maksud.

Photo by Erol Ahmed on Unsplash

About the author

Konten yang mungkin menarik untuk anda

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...

Apakah kamu sadar bahwa bahasa...

Speak Up

Polyglot Indonesia has this great...

Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organisasi

Newsletter