German Language Coordinator, Language Coordinator

by denny.kusuma on 

April 13, 2017
Wildlife conservation, local conversation. (How was Polyglot member see life?)
dewi.jpg

(Repost from http://dewimasita.tumblr.com/)

Pengalaman berharga ini dimulai ketika kuseberangi laut Jawa menuju hutan Borneo, meninggalkan keluarga, sahabat, dan peradaban yang mungkin tak akan sama nantinya.

Borneo ini luas. Berbagai macam suku, budaya, dan bahasa ada di sini. Macam-macam suku inilah membuat Kalimantan kaya akan Bahasa di samping kaya akan pesona alamnya yang luar biasa.

Suku asli Kalimantan terdiri dari Dayak, Melayu, Banjar, Kutai, Paser, Berau dan Tidung. Di Kalimantan Barat yang kusinggahi ini, mayoritas terdiri dari suku Melayu dan Dayak, walaupun tidak menutup kemungkinan cukup banyak juga penduduk Jawa, Tiongkok, dan suku lain yang bermigrasi kemari hanya demi sesuap nasi atau sebongkah berlian karena memang peluang untuk bekerja di pulau ini cukup bagus dan belum sehiruk pikuk di pulau tempatku berasal.

Aku singgah di Ketapang, sebuah kota kecil di Provinsi Kalimantan Barat yang membuat rasa penasaranku cukup besar untuk mengeksplornya. Aku bekerja di satu Pusat Konservasi Penyelamatan dan Rehabilitasi Satwa untuk Orangutan dan Kukang sebagai tenaga medis. Dibutuhkan kemampuan komunikasi dan sosialisasi yang luar biasa untuk mengkoordinasikan semua kegiatan dengan semua staff yang bekerja disini. Nyaliku sempat ciut untuk beberapa saat ketika diriku datang kemari untuk pertama kalinya. Mayoritas dari mereka berbahasa Melayu dan Dayak, khususnya kawan-kawan Animal Caretakers. Dengan mayoritas penduduk asli Melayu dan Dayak, diriku merasa asing (rasanya seperti lagu dari Sting, “Englishman in New York”. I’m a legal alien).

Beruntunglah mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik, tapi dalam aksen kental Melayu dan Dayak yang sangat melekat di setiap tuturnya. Bahasa Melayu relatif mudah untuk dipahami karena dasarnya sama seperti Bahasa Indonesia, namun tetap ada beberapa kosakata yang hanya milik mereka. Ini sudah masuk bulan keenam bagiku, memahami mereka mulai cukup mudah.

Februari lalu, aku mendapat kesempatan untuk bertugas satu bulan lamanya di “Jantung Borneo”, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) sebagai tenaga medis untuk Orangutan Post-release yang sedang dimonitoring oleh tim kami, meninggalkan peradaban kota kecil Ketapang dan segala sinyal telepon genggamnya, tempat tidur nyaman yang hangat, dan semua pangan yang nikmat. TNBBBR terletak di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, maka dari itu masyarakat sering menyebutnya dengan sebutan “Jantung Borneo”. 

Seluruh anggota tim monitoring adalah penduduk asli Kabupaten Melawi bermayoritaskan suku Dayak. Hanya Dayak. Namun hal luar biasanya adalah walaupun mereka sesama suku Dayak, bahasa mereka setiap sub suku pun berbeda. Mereka mempunyai sub suku Dayak yang jumlahnya memasuki angka ratusan, dikelompokkan menjadi enam rumpun besar, Dayak Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Dayak Ot Danum-Ngaju, Dayak Iban, Dayak Murut, Dayak Klemantan dan Dayak Punan. Luar biasa, bukan?

Lagi-lagi diriku diselamatkan oleh Bahasa pemersatu kita semua, Bahasa Indonesia. 

Di saat mereka bekerja dan berkoordinasi denganku, mereka menggunakan Bahasa Indonesia yang cukup baik, bertutur kata baik, dan sangat bersahabat. Di saat usai kerja, saat santai dan bergurau dengan kawan masing-masing, mulailah aku lagi-lagi menjadi alien. Bahasa Dayak yang berbagai macam simpang siur di telingaku untuk beberapa hari. 

Aku tak sabar lagi.

Kuberanikanlah diriku meminta mereka untuk mengajarkanku Bahasa mereka.

Responnya luar biasa, mereka akan melakukannya dengan senang hati!

Namun ini tahun 2017, tak ada yang gratis. Mereka meminta imbalan.

Coba tebak?

Ya, sebagai ganti atau imbalannya mereka memintaku untuk mengajari berbahasa Jawa.

Dibuatlah beberapa vocabulary Indonesia-Dayak dan Indonesia-Jawa. Kami saling berbagi dan bertukar ilmu dan pengalaman. Oh iya, kebetulan yang kupelajari adalah Bahasa dari Sub-Suku Dayak Limbai.

dewi.jpg

(A snap of vocabularies they’ve made for me)

Sayangnya waktu satu bulan tak cukup untuk mempelajari banyak dan aku pun harus kembali ke Ketapang. Tapi kembali ke Ketapang bukan berarti berhenti untuk mempelajari apa yang sudah kumulai. Justru dengan mengetahui satu jenis bahasa lokal ini cukup menggelitik untuk mempelajari bahasa lokal lainnya.

Indonesia ini sangat kaya.

Kaya akan suku dan budaya, pesona alam, dan beratus-ratus bahasa.

Menjadi seorang Polyglot tidak harus dengan mempelajari banyak bahasa Internasional, siapa pun orang Indonesia bisa menjadi Polyglot yang luar biasa hanya dengan hidup di negeri kaya ini dan mempelajari semua bahasa lokalnya.

About the author

Konten yang mungkin menarik untuk anda

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...

Apakah kamu sadar bahwa bahasa...

Speak Up

Polyglot Indonesia has this great...

Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organisasi

Newsletter