Executive Director

by mira.zakaria on 

Agustus 16, 2014
“Roaming Bahasa” - Sebuah Lelucon?
800px-talking_with_the_hands.jpg

Lucukah saat kita menertawakan orang asing yang berusaha berbicara dalam bahasa Indonesia dan dia salah berekspresi? Apa yang anda lakukan saat melihat orang asing berbicara dalam bahasa Indonesia? Apakah anda akan membantu dia dengan mengkoreksi kalimatnya, atau apa mungkin akan menjahilinya, dengan mengajarkan kalimat yang salah?

Sama kah situasinya saat anda ada di luar Indonesia? Apakah anda akan di-"kerjain" oleh orang setempat atau akankah dibantu? :) Apakah ini menjadi hal yang lucu saat anda mencoba untuk menyampaikan sesuatu, tapi ujung-ujungnya anda harus bersusah payah menyampaikan maksud anda dengan bahasa isyarat, bahasa seadanya, bahasa tarzan menunjuk-nunjuk apapun yang disekitar anda, agar apa yang anda maksud bisa dipahami oleh orang lain? Mungkin saat awal, pengalaman ini akan terkesan cukup menghibur, tapi lama-kelamaan andapun akan bosan atau frustrasi menghadapi situasi seperti ini. Alhasil, anda akan dihadapkan dengan pilihan, apakah anda akan mulai mempelajari bahasanya, walaupun resikonya adalah juga bisa ditertawakan, atau memilih untuk mencari orang-orang dengan nasib yang sama dan mengisolasi diri dari bahasa dan budaya setempat? (Jangan salah lho, inipun ada cukup banyak grup minoritas yang memilih jalan ini)

Jadi, pentingkah untuk mengerti orang lain? Pentingkah untuk berbicara dalam bahasa selain bahasa ibu kita?

Menjawab pertanyaan ini bagaikan memandang pedang dengan dua sisi yang berbeda… saat kita sudah terbiasa terexpose dengan berbagai produk, layanan dan acara hiburan yang dari luar negeri, sepertinya sudah menjadi hal yang biasa untuk menggunakan bahasa Inggris, mencampurkannya istilah-istilah bahasa Inggris ke dalam kalimat bahasa Indonesia, ataupun mengasosiasikan sesuatu hanya dengan istilah bahasa Inggris karena kita sudah terbiasa menggunakan istilahnya, dan lingkungan kita juga sudah mengerti apa yang menjadi maksud kita saat menggunakan kata tersebut.

Di sisi lain, ego kita mungkin akan mendorong kita untuk lebih mendukung bahasa kita sendiri. Suatu hal yang penting memang faktanya bahwa orang Indonesia ini hebat tingkat nasionalismenya. Kita masih sangat bangga akan budaya, bangsa dan bahasa kita, sangat apresiatif, tapi pada saat yang sama, masih mengalami tantangan memilah nilai-nilai budaya luar dan di saat yang sama mempertahankan nilai-nilai budaya Indonesia, termasuk bahasa kita.

Bahasa ibu memang menjadi hal yang perlu kita jaga. Kenapa pengetahuan mengenai bahasa pertama kita segitu penting? Bayangkan saja, kita mempelajari makna dengan mengasosiasikan sebuah perasaan dengan memori. Kenangan-kenangan dan perasaan saat pertama kali kita memaknai suatu hal atau suatu pemahaman akan melekat kepada kita setiap kali kita berusaha mengartikan sesuatu yang baru kita belajar. Saat kita belajar bahasa lainpun, kita mencari penerjemahan yang pas dalam bahasa pertama kita, agar kita dapat pemahaman yang lebih baik. Dari bahasa pertama kita pelajari saat masih kecil, kita dapat membentuk values system (nilai-nilai moral) yang sesuai dengan budaya asli kita. Alhasil, secara umum, identitas masing-masing orang akan terbentuk melalui nilai-nilai dari bahasa ibu.

Bahasa Indonesia mempunyai nilai-nilai tertentu, bahasa daerahpun demikian. Stuktur bahasa membentuk pola pikir, perilaku dan pandangan. Ini yang menjadi dasarstereotyping, ditambahkan dengan bumbu-bumbu persepsi masing-masing yang menceritakan atau menyebutkan tentang sebuah stereotype.

Bahasa menjadi warisan yang perlu kita jaga. “Bahasa” juga akan berkembang seiring dengan perkembangan jaman dan manusia dalam suatu persatuan budaya, dan “bahasa” merupakan pengetahuan. And knowledge goes with the people.

Bukankah itu sudah menjadi argumen yang cukup kuat untuk generasi muda untuk melestarikan bahasa-bahasa kita? It’s all in our hands!

Jadi, anda pilih berpihak pada sisi tertentu? :)

Mempelajari suatu bahasa sebenarnya memang tidak ada ruginya. Melalui pembelajaran bahasa, kita dapat mempelajari stuktur sebuah bahasa yang mempengaruhi pola berpikir para penutur asli bahasa tersebut. Selain itu, bahasa mengantarkan kita kepada pemahaman prinsip-prinsip, nilai budaya dengan sopan santunnya yang pantas dalam suatu bahasa. Alhasil, kita bisa dapat merangkai suatu gambaran pemahaman mengenai suatu budaya lain. Pemahaman yang didasari pengalaman riil yang dapat diasosiasikan dengan fakta-fakta dan keadaan yang kita melihat, merasakan, mendengarkan atau mengalami sendiri, lebih menciptakan pemikiran yang lebih toleran. Toleransi – hal yang jauh lebih baik daripada berargumen dengan stereotype atas dasar asumsi.

Meminjam kata-kata bijak Madiba Nelson Mandela:

 

“If you talk to a man in a language he understands, that goes to his head. If you talk to him in his language, that goes to his heart.”

(Jika Anda berbicara dengan seseorang dalam bahasa yang ia mengerti pembicaraan Anda akan masuk ke dalam pikirannya. Jika Anda berbicara dengan dia dalam bahasanya, pembicaraan Anda akan masuk ke dalam hatinya.)

Jika kita dapat membangun relasi positif dengan berbicara dalam bahasa yg lebih mudah diterima oleh lawan bicara (bukan hanya secara linguistik -bahasa lain-, tetapi juga level bahasa atau bahasa yang disesuaikan dengan umur/generasi, daerah, dan gaya bicara), bukankah itu alasan yang kuat untuk belajar bahasa?

Jadi, Anda masih mau “roaming”?  :)

 

Image By Wikimania2009 Beatrice Murch [CC-BY-2.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/2.0) or CC-BY-3.0 (http://creativecommons.org/licenses/by/3.0)], via Wikimedia Commons

About the author

Konten yang mungkin menarik untuk anda

Home

Organisasi

Newsletter