Editor, French Language Coordinator

by zhakia.ulfah on 

September 15, 2017
Empat tahun-Kado untuk Polyglot Indonesia, Persembahan bagi Bangsa
21728210_10210203593827195_451342104439067715_n.jpg

 

            Seperti yang diketahui rakyat nusantara, tanggal 17  Agustus 1945 merupakan tanggal kemerdekaan negara kita tercinta, Indonesia. Detik pengalaman para pejuang demi mengibarkan sang merah putih sudah banyak terekam di setiap jejak cerita, baik dari mulut ke mulut, maupun buku-buku pelajaran di sekolah.

            Perjuangan gagah berani para pahlawan terdahulu haruslah dilanjutkan, walau dengan cara yang berbeda. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengharumkan nama Indonesia dan juga memperkenalkan keistimewaan Indonesia di mata dunia. Dan untuk hal ini, harus ada jembatan perantara. Suka atau tidak suka bahasa adalah salah satu jembatannya.

            Berdasarkan dengan keyakinan tersebut, teman-teman Polyglot Indonesia memilih untuk melanjutkan perjuangan sebagai agen narahubung dalam mengkomunikasikan segala hal mengenai Indonesia. Pemuda-pemudi ini menyadari bahwa bahasa memegang peranan penting dalam penyebaran budaya dan ilmu pengetahuan. Bahasa juga menjadi penghubung vital terjadinya kesepahaman yang akhirnya menjadi sebuah kesepakatan. Walaupun bahasa seringkali hanya dianggap sebagai ilmu kelas tiga, senyatanya tanpa bahasa, proses perpindahan informasi akan terkendala.

Seperti yang diceritakan Febri Darusman di laman Facebook-nya,

"Feel so honored to be a bridge between Indonesia  and Spain. Thank you so much for this chance @ipho_2017 “

“Saya merasa terhormat sekali bisa menjembatani antara Indonesia dan Spanyol. Terima kasih banyak atas kesempatanya @ipho_2017”

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10211925425829956&substory_index=0&id=1201126337

 

Ipho adalah International Physics Olympiad (Olimpiade Fisika Internasional) yang diselenggarakan di Yogya pada tanggal 16-24 Juli kemarin. Febri adalah salah satu liaison officer terpilih untuk acara tersebut. Dia menguasai bahasa Spanyol, Perancis, Inggris dan sedang mempelajari bahasa asing lainnya

Selain itu, Naraningrum Pristiwati juga menceritakan tentang pengalamannya menjadi guide atau pemandu wisata di Prambanan,

"Acara malam 17 Agustus dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.
Lalu teringat pada pertanyaan yang di lontarkan oleh turis dari Belanda pagi tadi .
Mereka bertanya tentang kemerdekaan Indonesia. Apakah Indonesia merdeka dari penjajahan bangsanya? 
Bayangkan seperti apakah rasanya ketika di tanya tentang kemerdekaan negara kita dan sang penanya adalah generasi ke sekian dari penjajah kita . 
Setelah tersenyum aku menjawab :

"Setelah Belanda meninggalkan Indonesia , Jepang menjajah selama tiga setengah tahun . Lalu US menjatuhkan bom di Hiroshima dan Nagasaki . Dan pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa ini menyatakan kemerdekaannya. Dan hari ini aku memakai pakaian berwarna merah dan putih untuk memperingati hari kemerdekaan kami."

Mereka pun tersenyum, bahkan, ketika aku berbicara dengan bahasa mereka , aku melihat apresiasi tinggi mereka kepadaku. 
Sungguh moment yang mengesankan sehari menjelang dirgahayu RI ke - 72 .
Merdeka!!"

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1612938002071131&id=100000648413964

Ungkap Nara dalam bahasa Belanda pada halaman Facebook-nya.

Disana terlihat bagaimana bahasa telah menjembatani dua negara dan dua dunia yang berbeda. Kedua poliglot ini  juga menjadi saksi bagaimana ilmu yang dianggap 'kelas tiga' tersebut, justru membawa mereka ke tempat yang lebih jauh dari paradigma tersebut.

Hari ini, bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Polyglot Indonesia resmi berusia empat tahun. Belum lama, masih balita. Balita yang akan terus berkembang dan terus berusaha dalam menghasilkan lebih banyak lagi karya serta kontribusi positif lainya untuk memajukan Indonesia.

video by Monis Pandhu H :
https://www.youtube.com/watch?v=oNM65tdCXXw

 

Dirgahayu Indonesiaku
Majulah bangsaku

Dirgahayu Polyglot Indonesia

Polyglot Indonesia, "SPEAK UP!!"

 

By :

Christsita Ulung Kencana

 

 

 

 

 

 

About the author

This former regional coordinator of Polyglot Indonesia Bandung is known for being talkative and always have a lots of spirits. As a student of French Literature at University of Padjadjaran, she always has a crush on language. After attending a cultural exchange program in France view months ago, her interest about learning new languages is getting bigger. At this moment, she's in the middle of her thesis about French Semantic.

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

Globalisasi menjadi sebuah fenomena...
Pada era kini, mempelajari bahasa asing...
lobalisasi menjadi sebuah fenomena yang...
Polyglot Indonesia is present at the...

We encourage diversity, we love to...

 

            Seperti yang...

Pada era kini, mempelajari bahasa...

lobalisasi menjadi sebuah fenomena yang...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...

Home

Organization

Newsletter