Contributor, Founder
November 7, 2014
Bahasa Gaul
Bahasa Gaul

Akhir-akhir ini, Bahasa Indonesia banyak mengalami penambahan begitu banyak kosakata. Penambahan kosakata tersebut antara lain datang dari bahasa gaul anak baru gede (ABG). Banyak pihak yang merasa prihatin dan menganggap kosakata baru tesebut merusak bahasa Indonesia yang baku. Namun, kehadiran bahasa gaul ini tentu saja sulit dielakkan mengingat teknologi informasi yang sudah sangat terbuka sekarang. Entah siapa yang menciptakan dan mempopulerkan, tiba-tiba saja kita sering diperdengarkan kosakata-kosakata yang tidak pernah kita dengar sebelumnya. Seringkali para orang tua  yang memiliki anak-anak  baru gede (ABG) menjadi bingung karena sering tidak mengerti percakapan anak-anak mereka. Jika ditanya maka anak-anak mereka menjawab bahwa yang mereka gunakan adalah “Bahasa Gaul”.

Bahasa gaul merupakan bahasa pergaulan yang bersifat nonformal. Penggunaannya pun biasanya terbatas pada kalangan tertentu dan bersifat sementara. Bahasa ini awalnya merupakan bahasa sandi, yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Namun seiring dengan perkembangannya, bahasa gaul saat ini bukan lagi merupakan bahasa sandi, melainkan menjadi bahasa sehari-hari yang populer di kalangan remaja.

Kehadiran bahasa gaul dapat dianggap sebagai sesuatu yang wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan jaman terutama pada anak usia remaja. Selain itu kehadiran bahasa gaul bisa memperluwes cara berbicara kita alih-alih dari bahasa baku yang terkesan kaku dan kurang luwes dalam penggunaannya. Bahasa gaul sebenarnya sudah ada sejak 1970-an. Awalnya istilah-istilah dalam bahasa gaul itu untuk merahasiakan isi obrolan dalam komunitas tertentu. Tapi karena sering juga digunakan di luar komunitasnya, lama-lama istilah-istilah tersebut jadi bahasa sehari-hari. Jika anak-anak muda tidak menggunakan bahasa gaul ini, mereka akan merasa ketinggalan jaman, kuno, nggak gaul, dan sebagainya. Bahkan menurut kamus bahasa gaul sendiri, bergaul itu artinya supel, pandai berteman, nyambung diajak ngomong, periang, cerdas, dan serba tau info-info yang aktual, tajam dan terpercaya alias luwes wawasan. Dengan semakin berkembangnya jaman, semakin banyak pula bermunculan hal-hal baru yang kemudian menuntut pola pikir baru dan cara berkomunakasi yang baru pula. Kehadiran bahasa gaul dirasakan bisa menambah nilai keluwesan dalam berbahasa karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa bahasa baku yang sudah ada tidak mampu lagi mendeskripsikan susasana baru yang lebih luwes, fleksibel dan jauh dari kesan kaku.

Pembentukan kosakata dan makna bahasa gaul di Indonesia sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya. Jika ada sebuah kata yang dianggap baru dan lebih tepat untuk menggambarkan suatu keadaan maka dengan cepat akan segera diadopsi. Bisa jadi ucapan-ucapan tersebut berawal dari celetukan spontan saja, namun karena dianggap memenuhi unsur-unsur tersebut diatas, maka segera akan menjadi populer. Bisa juga berasal dari singkatan dari beberapa kata. Biasanya bahasa gaul akan mengalami masa “pasang-surut”, tiap generasi memiliki selera dan dinamikanya sendiri,

Terlepas merusak bahasa baku atau tidak, istilah dan kosakata baru (gaul) semakin memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Para pengguna Bahasa Indonesia harus mampu membedakan antara yang baku dan yang tidak baku. Kehadiran bahasa gaul tidak perlu dipersoalkan secara serius sebagai sebuah ancaman rusaknya tatanan bahasa, karena hanya bersifat sementara, datang dan pergi dan selalu akan begitu. Bahasa gaul hanya digunakan sebagai bahasa komunitas kaum muda usia yang mencoba membangun solidaritas. Bahasa gaul juga berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa gaul, mereka yang menggunakannya ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.

image by Infrogmation [CC-BY-SA-2.5 (http://creativecommons.org/licenses/by-sa/2.5)], via Wikimedia Commons

About the author

Krisna is one of the Indonesian hyperpolyglot who speaks 8 languages. He can switch easily between, Japanese, Mandarin, Cantonese, and Korean. After finishing his master degree in Korea, he continues to work as diplomat for Indonesian Ministry of Foreign Affairs. He is currently assigned in Indonesian Embassy in Hongkong.

Content you may like

Dunia telah berkembang sedemikian...

Ketupat atau kupat adalah hidangan...

Menurut pengalaman studi saya, ada...

The beauty of speaking several...
Sunday, December 7th, 2014 – Chapter...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Polyglot Indonesia goes to UNAOC Global...
Polyglot Indonesia is present at the...
TEASER PING 2016
In the honour of the Indonesian...
Hari ini, Minggu, 3 January 2016,...

Home

Organization

Newsletter